Harwan Muldidarmawan Jelaskan Peran Compliance dan Etika untuk Keberlanjutan Organisasi UGM

Penerapan compliance dan etika yang terintegrasi menjadi landasan fundamental dalam membangun tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) serta mendorong keberlanjutan organisasi dalam jangka panjang. Dalam era di mana transparansi dan akuntabilitas menjadi semakin penting, hal ini menjadi suatu keharusan bagi setiap organisasi untuk mengadopsi prinsip-prinsip tersebut secara menyeluruh.
Peran Compliance dan Etika dalam Organisasi
Harwan Muldidarmawan, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko di PT Jasa Raharja, menekankan pentingnya penerapan prinsip-prinsip etika bisnis dan kepatuhan dalam sebuah kuliah tamu yang diadakan untuk mahasiswa MBA/IMBA Angkatan 87 di Program Studi Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM). Acara tersebut berlangsung di Faculty Meeting Room (FMR) MBA FEB UGM Kampus Yogyakarta pada tanggal 31 Maret 2026.
Dalam presentasinya, Harwan mengungkapkan bahwa penerapan prinsip ini tidak hanya sebatas memenuhi regulasi yang ada, tetapi juga harus menjadi bagian integral dari setiap proses bisnis serta pengambilan keputusan di seluruh lini organisasi. Pendekatan ini diperkuat dengan pengelolaan risiko yang sistematis dan pembangunan budaya perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai integritas dan akuntabilitas.
Strategi Manajemen yang Efektif
“Kepatuhan terhadap regulasi yang diterapkan dengan penuh tanggung jawab, disertai strategi manajemen yang tepat, tidak hanya memastikan operasional perusahaan berjalan sesuai ketentuan, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik sebagai aset utama perusahaan,” kata Harwan. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan suatu organisasi tidak hanya ditentukan oleh kinerja finansial, tetapi juga oleh reputasi dan kepercayaan yang dibangun di mata masyarakat.
Keberlanjutan dalam Layanan Publik
Lebih lanjut, Harwan menekankan bahwa bagi perusahaan yang bergerak di sektor layanan publik, menjaga keseimbangan antara compliance, etika, dan kinerja merupakan kunci untuk menyediakan layanan yang berkelanjutan. “Ini juga memberikan nilai tambah bagi masyarakat luas,” tambahnya, menggarisbawahi bahwa peran perusahaan tidak hanya sebagai penyedia layanan, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang lebih besar.
Etika sebagai Fondasi Governance
Dalam paparan tersebut, Harwan menjelaskan bahwa PT Jasa Raharja menempatkan etika sebagai pilar utama dalam kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC). Etika bukan hanya dianggap sebagai sekadar pemenuhan aturan, melainkan sebagai kompas moral yang membimbing setiap keputusan yang diambil. Hal ini diwujudkan melalui penerapan Kode Etik, penguatan budaya integritas dengan prinsip zero tolerance terhadap penipuan, serta integrasi etika dalam proses bisnis dan layanan.
- Penerapan Kode Etik yang jelas dan terukur
- Penguatan budaya integritas di seluruh lini organisasi
- Prinsip zero tolerance terhadap penipuan
- Integrasi etika dalam layanan dan pengelolaan risiko
- Adopsi sistem digital untuk transparansi dan akuntabilitas
Dengan dukungan sistem digital seperti ekosistem GRC dan JRCare, Jasa Raharja berkomitmen untuk menjamin transparansi, akuntabilitas, serta kecepatan dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Sebagai perusahaan yang memiliki tanggung jawab publik, Jasa Raharja memastikan setiap pengelolaan dana dan pelayanan dilakukan secara adil, inklusif, dan bertanggung jawab, yang pada akhirnya membangun kepercayaan publik dan menjaga keberlanjutan layanan dalam jangka panjang.
Kinerja Perusahaan di Tengah Tantangan
Keberhasilan ini tercermin dari kinerja keuangan yang solid, bahkan di tengah tantangan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19. Pengakuan publik yang diterima oleh Jasa Raharja, baik di tingkat nasional maupun internasional, menjadi bukti nyata dari penerapan prinsip-prinsip etika dan kepatuhan yang dijunjung tinggi. Prof. Amin Wibowo, Ph.D., dari MBA FEB UGM, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Harwan Muldidarmawan dalam kuliah tersebut, yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman langsung mengenai implementasi Business Ethics for Sustainability di dunia industri.
“Terima kasih atas kehadiran Bapak Harwan dan kontribusinya dalam kelas kali ini. Ini adalah bekal penting bagi mahasiswa UGM, yang berkesempatan untuk belajar secara langsung dari praktik yang diterapkan oleh Jasa Raharja,” ungkapnya. Pujian ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi dalam memperkaya proses pembelajaran di lingkungan akademis.
Nilai Tambah Kolaborasi Akademisi dan Praktisi
Prof. Amin juga menegaskan bahwa kolaborasi antara pihak akademik dan praktisi memberikan nilai tambah yang signifikan dalam proses belajar mengajar di MBA FEB UGM. Program MBA tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengetahuan teoritis, tetapi juga memberikan pandangan praktis melalui kehadiran profesional sebagai dosen tamu. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam, baik dari sisi teori maupun dari pengalaman nyata di lapangan, yang tidak selalu dapat diperoleh di ruang kelas.
Interaksi Aktif dalam Kuliah Tamu
Kegiatan kuliah tamu yang dimoderatori oleh Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., ini dihadiri oleh 57 peserta, termasuk Guru Besar FEB UGM, Prof. Eko Suwardi, MSc., Ph.D. Acara berlangsung secara interaktif dengan partisipasi aktif dari mahasiswa, yang menunjukkan antusiasme tinggi melalui berbagai pertanyaan dan diskusi kritis mengenai isu-isu etika bisnis dan keberlanjutan. Diskusi ini mencakup perspektif konseptual serta praktik di lapangan, yang sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi oleh dunia bisnis saat ini.
Melalui kegiatan semacam ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan tentang etika bisnis dan compliance, tetapi juga belajar bagaimana menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam konteks nyata, mempersiapkan mereka untuk menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan beretika di masa depan.




